DISKO – MEMBUAT KOPI BERKELANJUTAN MENARIK UNTUK SEKTOR SWASTA

Jakarta (Indonesia), 31 Agustus 2019 – topik DISKO (Diskusi Kopi) ini menarik banyak peminat dan dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai kalangan baik publik peminat kopi, petani, roaster, maupun Anggota dan Mitra SCOPI yang merupakan perusahaan swasta seperti Nestlé dan Mayora. SCOPI mengundang berbagai narasumber yang merupakan nama besar di industri kopi dan praktisi. Satu pertanyaan penting yang ingin di eksplorasi adalah sejauh mana pemahaman para pelaku di sektor swasta tentang kopi berkelanjutan sekaligus mengidentifikasikan permasalahan di industri kopi dan bersama-sama memikirkan pemecahannya.

 

Narasumber yang hadir adalah Mira Yudhawati, General Manager Boncafé Indonesia dan Q-grader wanita pertama Indonesia, Andanu Prasetyo, pendiri dan pemilik Toko Kopi Tuku, Ravid Annaba, peneliti dan co founder Telusurasa. Bertindak sebagai moderator adalah Ketua Dewan Eksekutif SCOPI, Irvan Helmi.

 

Masing-masing narasumber mengemukakan permasalahan yang dihadapi, Mira Yudhawati sangat menyayangkan reputasi kopi Indonesia dikalangan internasional. Kopi Indonesia tidak memiliki konsistensi baik dari segi kualitas, kuantitas, dan harga dibandingkan kopi negara lain misalnya Brazil.

 

Sedangkan bagi Andanu Prasetyo yang memulai usahanya sebagai trendsetter kopi susu di Indonesia, permasalahan yang utama adalah kurangnya informasi mengenai industri kopi itu sendiri. Kemudian adanya kesenjangan antara kemajuan atau perkembangan yang sangat pesat di industri hilir tidak diikuti dengan perkembangan di industri hulu. Para pelaku di industri kopi Indonesia tidak memiliki kata sepakat mengenai definisi kopi Indonesia sehingga sulit untuk memasarkan kopi Indonesia ke dunia internasional.

 

Melihat dari segi akademisi, Radiv Annaba seorang peneliti muda Indonesia mengatakan bahwa Indonesia seharusnya bisa menentukan sendiri definisi dan langkah-langkah menuju keberlanjutan yang tepat dan cocok diterapkan di Indonesia. Tidak pernah ada kesepakatan definisi mengenai apa itu specialty coffee dan sangat kurangnya riset dan pengembangan di industri kopi. Selain mengemukakan permasalahan yang sama yaitu kesenjangan perkembangan yang hanya terjadi di industri hilir, Ia juga melihat tidak adanya suatu rantai nilai dari hulu ke hilir yang baik. Tidak adanya penghubung yang menjembatani kedua industri tersebut semakin melebarkan kesenjangan yang ada. Pelaku industri kopi di Indonesia seharusnya bisa melihat bagaimana sinerginya kedua industri tersebut di daerah Gayo, Aceh, dimana semua pihak sudah mengerti fungsinya masing-masing sehingga rantai nilainya bekerja dengan baik dan semua pihak diuntungkan. Permasalahan terakhir yang tidak kalah penting adalah sulitnya mengakses data yang mengungkap kondisi industri kopi itu sendiri.

 

Para peserta yang hadir juga mengemukakan permasalahan yang sering dihadapi khususnya bagi mereka yang memiliki usaha di luar negeri. Para pengusaha kesulitan untuk mendapatkan kopi Indonesia yang bervariasi, jenis yang bisa didapat kebanyakan berasal dari provinsi Sumatra dan pasokan harus didapatkan melalui perusahaan perantara besar sehingga harganya menjadi lebih mahal. Berbagai keluhan sudah disampaikan ke berbagai pihak seperti KBRI namun hal ini tidak ditindaklanjuti. Permasalahan lainnya adalah banyaknya missing link di rantai pasok dan tidak ada pemetaan yang jelas siapa saja pemangku kepentingan di industri kopi.

 

Masing-masing narasumber diminta untuk memimpin diskusi dalam memecahkan permasalahan yang sudah mereka kemukakan.

 

Kelompok Mira Yudhawati menyatakan usulan/rencana aksi yang dianggap tepat adalah:

  • Dibutuhkan mediator atau alat komunikasi yang bisa diakses yang mampu menjembatani komunikasi antara industri hulu dan hilir. Program SCOPI harus lebih banyak dikenal oleh pelaku industri kopi dan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan harus dirancang dengan baik sehingga keluarannya berupa hasil yang nyata.
  • SCOPI bisa memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada petani mengenai kualitas dan kuantitas yang menjadi acuan pasar. Melalui program Master Trainer pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan tingkat kemampuan petani yang dibimbing.
  • Memberikan informasi kepada pelaku pasar bahwa setiap jenis kopi memiliki segmentasi yang berbeda-beda, harus ada penyeragaman bahasa untuk menyampaikan informasi ini untuk mengakomodir segmentasi pasar yang berbeda-beda.
  • Mendorong terciptanya komitmen dan kemitraan untuk kerjasama jangka panjang antara petani dengan pembeli atau konsumen.
  • SCOPI harus merangkul semua kalangan dan menjadi wadah untuk pertukaran informasi.

 

Kelompok Andanu Prasetyo menyatakan usulan/rencana aksi yang dianggap tepat adalah:

  • Melalui suatu wadah yang sifatnya netral seperti SCOPI mengumpulkan semua pelaku atau aktor di industri kopi untuk mencapai kata sepakat mengenai definisi kopi Indonesia dan menuangkannya dalam sebuah dokumen.
  • Melakukan advokasi ke tingkat pemerintah untuk menyarankan regulasi yang lebih konkret untuk mendukung perkembangan industri kopi Indonesia.
  • Melakukan kajian suatu business model di industri hilir dan mencari stimulus sehingga industri hilir mampu menjadi penggerak yang menarik industri hulu.
  • Melakukan riset dan pengembangan misalnya bagaimana industri kopi bisa berkolaborasi dengan komoditas unggulan lain di Indonesia untuk menghasilkan produk baru.

 

Kelompok  Radiv Annaba menyatakan usulan/rencana aksi yang dianggap tepat adalah:

  • SCOPI membentuk divisi khusus riset dan pengembangan yang kegiatannya melakukan pemetaan berbagai variabel tentang hal-hal yang berkaitan dengan industri kopi. Hasil riset nantinya bisa digunakan untuk melakukan advokasi yang mampu mempengaruhi terbentuknya suatu kebijakan.
  • Membuat suatu platform sistem pembelian untuk mengelola cashflow yang terjadi di industri kopi di Indonesia dan untuk mengidentifikasikan permasalahannya.
  • Meningkatkan kesadaran publik mengenai gagasan keberlanjutan.
  • Membentuk satuan gugusan kerja untuk membuat rencana kerja dan membantu proses implementasi menjadi aksi nyata..
  • Menyiapkan SDM untuk riset dan implementasi lapangan.
  • Membentuk business development untuk membangun value chain coffee.

 

SCOPI sangat senang melihat kepedulian berbagai pelaku di industri kopi yang diharapkan bisa berlanjut ke komitmen konkret untuk mengimplementasikan berbagai inisiatif yang disepakati bersama.

 

Selanjutnya Sekretariat SCOPI akan membuat diskusi lanjutan bersama para Anggota SCOPI guna menentukan skala prioritas dan rencana aksi nyata yang akan dikerjakan.

Comments are closed.

Berlangganan Newsletter Kami

Daftarkan email anda untuk mendapatkan pembaruan terbaru dari kami.