Siasati Ketidakpastian Lewat Program Diversifikasi dan Integrasi – SCOPI

Siasati Ketidakpastian Lewat Program Diversifikasi dan Integrasi

Program Kolaborasi Yayasan Inisiatif Dagang Hijau dan PT Asal Jaya

 

Pada 2015, sektor pertanian dan perkebunan di Indonesia terdampak El Nino, tidak terkecuali sektor perkebunan kopi di Malang, Jawa Timur. Pada 2016, para petani di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, hanya mampu memproduksi 30% dari total produksi maksimal. Tahun tersebut merupakan awal kerja sama antara Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) dan PT Asal Jaya untuk meningkatkan pasokan green bean dan peningkatan kesejahteraan petani di empat kecamatan, yakni Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit (Amstirdam), Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dengan target 15.000 petani kopi selama lima tahun. Peningkatan kesejahteraan petani ditempuh salah satunya dengan cara mitigasi risiko dari ketidakpastian. Selain kondisi cuaca, aspek ketidakpastian juga meliputi kondisi pasar dan perawatan tanaman kopi.

Flutkuasi harga pasar yang diakibatkan struktur rantai pasok dan risiko perawatan tanaman kopi merupakan isu utama yang dihadapi petani. Selain faktor eksternal seperti harga pasar dan cuaca, petani juga harus mengelola risiko perawatan tanaman kopi seperti hama, penyakit, jamur dan kekurangan akan tersedianya tenaga pekerja di perkebunan. Oleh karena itu, diperlukan satu langkah strategis untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, salah satunya melalui diversifikasi dan integrasi.

Diversifikasi dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan lahan dengan menanam lebih dari satu jenis komoditi sedangkan integrasi merupakan upaya untuk memadukan tanaman dan ternak untuk mendapatkan simbiosis mutualisme di antara ke duanya. Program diversifikasi dan integrasi dilakukan oleh IDH dan PT Asal Jaya sejak awal kerja sama pada 2016 hingga 2020. Selain untuk mengelola ketidakpastian dari faktor eksternal dan internal, diversifikasi dan integrasi juga bertujuan untuk menambah pendapatan dan pemenuhan nutrisi tanaman kopi.

Alternatif tambahan pendapatan diperoleh  dari tanaman tumpang sari seperti pohon pisang, cabe jamu, lada dan vanilla, pengelolaan sarang lebah penghasil madu serta penjualan hewan ternak.Sementara untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman kopi, petani kopi mengolah sendiri pupuk kompos organik yang merupakan campuran kotoran ternak dengan kulit buah kopi. Melalui program ini, kelompok tani juga bereksperimen mengolah pupuk cair organik (bio-urin) dari air seni ternak kambing dan kelinci. Selain itu, kotoran ternak dapat diolah menjadi biogas sebagai alternatif sumber listrik di tingkat rumah tangga. Namun, saat ini pemanfaatannya masih terkendala dikarenakan kebutuhan untuk satu tampungan biogas memerlukan kotoran hewan ternak minimal 25-50 ekor kambing atau kotoran dari 5 ekor sapi.

Tanaman penaung yang digunakan di perkebunan kopi petani mitra adalah pohon lamtoro (leucaena leucocephala), pohon sengon (albizia chinensis), pohon kelor (moringa oleifera), dan pohon pisang. Dedaunan dari pohon tersebut digunakan pula sebagai makanan ternak, terutama daun pohon sengon. Untuk pohon pisang, batang dan daun juga dapat digunakan sebagai pakan ternak setelah diolah. Batang pohon pisang dicacah dan dicampur dengan kulit kopi dan fermentor.

Dalam prosesnya, IDH dan PT Asal Jaya melakukan pendampingan melalui agronomis dan agrotekno yang berada di masing-masing wilayah. Pendampingan dilakukan melalui pusat Farmer Driven Research (FDR) yang merupakan pusat pelatihan dan percontohan untuk pengembangan tanaman kopi. Rata-rata dibutuhkan 3-6 bulan proses adopsi oleh petani. Umumnya, petani perlu melihat percontohan dari metode-metode diversifikasi dan integrasi tersebut. Percontohan tersebut akan memiliki dampak persuasif yang lebih signifikan ketika dilakukan di musim kemarau, di mana ternak menghadapi kekurangan pangan dan pohon kopi mengalami kekurangan asupan nutrisi.

Program diversifikasi dan integrasi ditargetkan untuk mencapai 70-80% dari total petani mitra yang didampingi hingga akhir program. Dari target tersebut, saat ini tingkat adopsi mencapai 40-60% dari masing-masing pusat FDR. Dengan adanya integrasi dengan hewan ternak dan diversifikasi tanaman serta adopsi metode peningkatan kualitas tanaman diharapkan dapat mengurangi risiko eksternal dan internal bagi para petani kopi mitra sehingga meningkatkan kualitas dan stabilitas produksi green bean serta memperbaiki kesejahteraan petani.

Sumber: Yayasan IDH

Share

Comments are closed.

Berlangganan Newsletter Kami

Daftarkan email anda untuk mendapatkan pembaruan terbaru dari kami.