Langkah Kolektif Pulihkan Kebun Kopi Sumatera: SCOPI Galang Sinergi Multipihak Pasca Bencana
Jakarta – Menanggapi dampak masif bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sentra kopi Sumatera pada akhir 2025, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) menyelenggarakan Diskusi Kopi Online (DISKO) bertajuk "Langkah Kolektif Menuju Pemulihan Berkelanjutan: Sinergi Multipihak dalam Aksi Tanggap Bencana Kebun Kopi Sumatera" pada Selasa (10/03/2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi Pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil untuk menyelaraskan inisiatif serta strategi pemulihan bagi lebih dari 17.000 hektar lahan kopi yang terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dalam sambutan pembukanya, Ade Aryani, Direktur Eksekutif SCOPI, menekankan pentingnya kolaborasi penanganan pasca bencana lintas sektor. "Diskusi kali ini diharapkan menjadi masukan penting dalam program pemulihan bencana di Sumatera. Kita perlu memahami tantangan di lapangan secara mendalam serta menjaring komitmen bersama untuk membangun kembali komoditas kopi di wilayah terdampak," ujarnya.
Dampak bencana Sumatera memang sangat signifikan terhadap performa kopi nasional, khususnya Arabika. Christieni Maria, selaku Kepala Divisi Komoditas Kopi dan Teh, Direktorat Tanaman Semusim dan Tahunan, Kementerian Pertanian RI memaparkan bahwa pemerintah telah merancang alokasi anggaran tambahan untuk rehabilitasi. "Di tahun 2026, secara menyeluruh dilakukan pengembangan kopi seluas 86 ribu hektar, di mana 18.812 hektar di antaranya dialokasikan khusus untuk penanganan bencana di wilayah Provinsi Aceh melalui penyaluran bantuan bibit dan upah tenaga kerja" jelasnya.
Anshary, S.E., M.A.P. selaku Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan Aceh Tengah mewakili Bupati Aceh Tengah, memberikan gambaran nyata mengenai kondisi infrastruktur utama yang belum pulih sepenuhnya. Beliau mencatat adanya kerusakan pada 175 ruas jalan yang menghambat distribusi logistik, serta 25% kebun kopi dilaporkan terdampak. "Masyarakat sangat membutuhkan restorasi lahan perkebunan dan pemulihan infrastruktur jalan produksi. Kami berharap ada aksi nyata untuk rehabilitasi dan rekonstruksi meskipun saat ini anggaran daerah masih terbatas pada penanganan darurat" tutur beliau.
Dari sisi sektor swasta, Jose Henao, General Manager ofi Indonesia, menegaskan komitmen industri untuk menjaga stabilitas pasar bagi petani. "Meskipun risiko kerugian di sisi eksportir cukup besar akibat ketersediaan stok yang terganggu, kontrak tetap berjalan agar kopi petani terus terjual. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada petani kopi Indonesia," tegas Jose. Selain memberikan bantuan kemanusiaan langsung ke petani terdampak, Jose juga menekankan pentingnya program sustainability dan pendampingan petani yang perlu terus berjalan meskipun di masa kritis untuk menjaga resiliensi rantai pasok kopi.
Irvan Helmi, Ketua Dewan Pengurus SCOPI, menegaskan peran SCOPI sebagai convener atau penghubung dalam aksi pemulihan ini. Beliau menyampaikan ajakan kuat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. "Kehadiran kita di DISKO ini adalah langkah awal yang sangat penting untuk saling menguatkan dalam upaya pemulihan berkelanjutan kebun kopi Sumatera," tegas Irvan. Beliau juga menekankan pentingnya sinkronisasi data dan inisiatif antar lembaga agar bantuan yang diberikan, seperti bibit, sesuai dengan kearifan lokal dan kebutuhan spesifik lahan pasca-bencana demi menghindari risiko banjir berulang.
Laporan langsung dari lapangan oleh para Coffee Master Trainer (MT) SCOPI memperkuat urgensi aksi kolektif tersebut. Salman dari Aceh Tengah menyoroti hambatan logistik akibat longsor yang mendorong petani menerapkan sistem wana tani untuk ketahanan pangan, sementara Budiman Sembiring melaporkan kondisi di Tapanuli yang berpotensi mengalami penurunan produksi hingga 70% dan mendesak kebutuhan bantuan bibit unggul serta pendampingan teknis bagi petani terdampak.
Moderator diskusi, Angga Prathama Putra dari WWF Indonesia, menutup sesi dengan menggarisbawahi peran strategis multipihak dan neutral-platform seperti SCOPI dalam menjadi penyambung aksi kolektif agar bantuan tidak tumpang tindih dan tepat sasaran.
Hingga Februari 2026, SCOPI melalui Fase 1 (Tanggap Darurat) telah menyalurkan dana sebesar Rp160.226.000 dari total penggalangan dana Rp341.361.000. Bantuan tersebut telah menjangkau 951 Kepala Keluarga di 71 desa disalurkan melalui jejaring MT yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Tentang SCOPI Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) adalah asosiasi nirlaba yang menjembatani Pemerintah, Sektor Swasta, dan Petani untuk mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan. SCOPI merupakan bagian dari jejaring Global Coffee Platform (GCP).