Bangun Ekosistem Agroforestri Kopi Berkelanjutan, SCOPI Resmi Luncurkan Program "Kopi TUMBUH Lestari" di Sanggau dan Sigi
JAKARTA/SANGGAU – Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) secara resmi meluncurkan program "Kopi TUMBUH Lestari", sebuah inisiatif untuk memperkuat ekosistem kopi agroforestri yang berkelanjutan di Indonesia. Peluncuran program ini ditandai dengan rangkaian kegiatan Kick-off Meeting yang dilaksanakan di dua wilayah target utama, yaitu Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat pada Rabu (26/11/2025) secara luring, dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Rabu (3/12/2025) secara daring.
Program TUMBUH (Tingkatkan Usaha Melalui Budidaya Unggul dan Hilirisasi) hadir untuk menjawab tantangan sektor kopi di kedua wilayah tersebut, mulai dari keterbatasan kapasitas teknis penyuluh dan petani, kualitas produk dari pelaku usaha yang perlu ditingkatkan, hingga akses pasar. Dengan pendekatan agroforestri kopi dan penerapan Kurikulum Nasional Kopi Berkelanjutan (NSC), serta memaksimalkan jejaring SCOPI sebagai asosiasi, program ini menargetkan pencetakan Master Trainer (MT) yang tersertifikasi BNSP, peningkatan kapasitas petani kopi melalui praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices), dan keterhubungan produsen dan pembeli kopi baik di level lokal maupun nasional.
Sanggau: Membuka Wilayah Baru, Menjahit Komitmen Kolektif
Dalam sambutannya di Sanggau, Irvan Helmi selaku Chairman of Executive Board SCOPI menekankan bahwa Kalimantan Barat adalah "wilayah baru" bagi intervensi program SCOPI yang selama ini kuat di 15 provinsi penghasil kopi lainnya.
"Bagi SCOPI, Sanggau bukan sekadar perluasan wilayah, tetapi peluang untuk mendesain fondasi kopi berkelanjutan secara kolektif sejak awal. Filosofi 'TUMBUH' kami pilih karena kami ingin menumbuhkan ekosistem, bukan sekadar menanam. Kami ingin Sanggau menjadi role model kopi agroforestri di Kalimantan," ujar Chairman SCOPI.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Sanggau. Shopiar Juliansyah, S.E., M.M. selaku Plt. Kepala Bapperida Sanggau menyambut baik program ini sebagai momentum untuk mempercepat pengembangan kopi di daerahnya. "Kami berharap program ini dapat meninggalkan jejak langkah yang baik dan terintegrasi lintas perangkat daerah, bahkan hingga mendukung potensi agrowisata kopi ke depannya," ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Eko Budi Santoso, S.Hut, mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Kalbar, menyoroti potensi besar kopi Liberika di lahan gambut Kalbar yang mencapai 2,6 juta hektar. "Wilayah Perhutanan Sosial di Kalbar sangat berpotensi dikembangkan melalui pendekatan agroforestri kopi, termasuk di Sanggau, sebagai upaya rehabilitasi lahan sekaligus peningkatan pendapatan masyarakat," jelasnya.
Rangkaian kegiatan di Sanggau tidak hanya berhenti pada seremoni. Tim SCOPI bersama mitra strategis seperti Lingkar Temu Kabupaten Lestari (TKL) dan Multistakeholder Forum (MSF) Sabang Merah Berdompu, didampingi oleh Grand Master Trainer (GMT) Dr. Retno Hulupi, melakukan kunjungan lapangan untuk memotret kondisi riil calon lokasi intervensi.
Kunjungan dilakukan ke Desa Menyabo, Kecamatan Tayan Hulu, meninjau kebun kopi seluas 1,6 hektare milik petani lokal yang membutuhkan pendampingan perawatan intensif. Tim juga mengunjungi Desa Tae, Kecamatan Balai, untuk melihat potensi unik di Hutan Adat yang dikelola oleh Kelompok Perhutanan Sosial (KPS). Di lokasi ini ditemukan jenis kopi lokal (kopi purba/amal) yang tumbuh di kawasan hutan adat seluas ± 1 hektare, yang menjadi sumber bibit bagi kebun anggota KPS.
Sigi: Investasi pada Sumber Daya Manusia
Melanjutkan momentum di Sanggau, kick-off di Kabupaten Sigi dilaksanakan secara daring dengan fokus program pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Irvan Helmi, Chairman of Executive Board SCOPI menegaskan bahwa meskipun program ini berdurasi padat (6 bulan) di Sigi, tujuannya adalah meletakkan fondasi jangka panjang melalui investasi pada manusia (Human Capital). "Aset terbesar Sigi bukan hanya SDA-nya, tapi juga manusianya. MT di Sigi akan didorong mendapatkan Sertifikasi BNSP. Ini adalah pengakuan negara bahwa pendampingan petani adalah pekerjaan professional sehingga kualitas dan keberlanjutanya terjamin" tegasnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Kepala Bidang Perkebunan, Bapak Simpra Tajang, M.Si., mengakui bahwa tantangan utama di Sigi adalah kurangnya kapasitas di hulu untuk pendampingan petani, meskipun supply chain-nya sudah cukup baik. "Dari 11.000 Ha kebun kopi di Sulteng, 4.000 Ha ada di Sigi. Program Kopi TUMBUH ini sangat relevan untuk mendukung pendampingan petani kita," ujarnya.
Drs. Sutopo Sapto Condro.,MT, Asisten II Setdakab yang mewakili Bupati Sigi menambahkan bahwa fokus pemerintah daerah saat ini adalah penguatan pertanian berkelanjutan. "Kami berharap kick-off program Kopi TUMBUH Lestari ini menjadi awal persamaan persepsi antar multipihak untuk membangun kerja sama yang konkret di sektor kopi," tuturnya.
Melalui program ini, SCOPI mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, sektor swasta, dan petani—untuk "merajut peran" dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Tujuannya adalah memastikan kopi Indonesia tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga lestari secara ekologi dan menyejahterakan petani.
Tentang SCOPI Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) adalah asosiasi nirlaba yang menjembatani Pemerintah, Sektor Swasta, dan Petani untuk mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan. SCOPI merupakan bagian dari jejaring Global Coffee Platform (GCP).
Kontak Media: I Wayan Bayu Anggara Staf Program, Sekretariat SCOPI Email: [email protected] Mobile: 089680098372 Website: www.scopi.or.id